Tes Alergi Pada Anak

Untuk mengetahui jenis alergi yang diderita anak-anak, sebaiknya dilakukan tes atau uji coba secara klinis. Berikut akan kita bahas tentang jenis tes untuk mengetahui alergi pada anak, tetapi sebelumnya dilakukan wawancara terlebih dahulu terhadap orang tua anak.

Jenis Tes Alergi Pada Anak-anak

Tes tusuk kulit (Skin Prick Test)

Fungsinya: memeriksa alergi pada anak terhadap alergen yang dihirup ( seperti debu, tungau, serbuk bunga) dan alergen makanan (susu, udang, kepiting), hingga 33 jenis alergen atau lebih.
Prosedur:

  • syaratnya usia anak minimal 3 tahun, dan dalam keadaan sehat (tidak sedang panas dan lain-lain) serta ia tidak baru meminum obat yang mengandung antihistamin (anti-alergi) dalam 3–7 hari (tergantung jenis obatnya).
  • dilakukan di kulit lengan bawah sisi dalam kemudian kulit diberi alat khusus yang disebut ekstrak alergen yang diletakkan di atas kulit dengan cara diteteskan. Ekstrak alergen ini berupa bahan-bahan alami, misalnya berbagai jenis makanan, bahkan tepung sari.
  • karena dilakukan untuk anaka-anak, sehingga tidak menggunakan jarum suntik biasa tetapi menggunakan jarum khusus, sehingga tidak mengeluarkan darah atau luka, serta tidak menyakitkan
  • hasil tes ini dapat diketahui dalam waktu 15 menit
  • apabila positif alergi terhadap alergen tertentu, maka reaksi yang akan timbul adalah bentol merah yang gatal di kulit
  • dilakukan oleh dokter yang betul-betul ahli di bidang alergi-imunologi karena tehnik dan interpretasi (membaca hasil tes) lebih sulit dibanding tes lain

Tes kulit intrakutan

  • Fungsinya : untuk mengetahui alergi pada anak terhadap obat yang disuntikkan Prosedur:
  • usia anak minimal 3 tahun
  • tes dilakukan di bagian kulit lengan bawah dengan cara menyuntikkan obat yang akan di tes di lapisan bawah kulit
  • hasil tes dapat dibaca setelah 15 menit
  • dinyatakan positif, maka reaksi yang muncul adalah timbul bentol, merah dan gatal.

Tes tempel (Patch Test)

Fungsinya: untuk mengetahui alergi pada anak, yang disebabkan oleh kontak terhadap bahan kimia, contohnya penyakit dermatitis atau eksim.
Prosedur:

  • syaratnya sama seperti dengan jenis tes sebelumnya, yaitu usia anak harus minimal 3 tahun
  • dua hari sebelum tes tempel (patch test), anak tidak boleh melakukan aktivitas yang menghasilkan keringat atau mandi.
  • karena tes akan dilakukan di daerah punggung (kulit punggung), maka punggung anak juga tidak diperbolehkan terkena gesekan dan harus bebas dari obat oles, krim atau salep
  • tes ini akan menempatkan bahan-bahan kimia dalam tempat khusus (finn chamber) lalu ditempelkan pada punggung anak
  • selama tes dilakukan yaitu 48 jam, anak tidak diperbolehkan terlalu aktif bergerak (berkeringat)
  • hasil tes bisa diketahui setelah 48 jam
  • apabila positif, anak alergi terhadap bahan kimia tertentu maka pada kulit punggung anak akan timbul bercak kemerahan atau melenting

Tes RAST (Radio Allergo Sorbent Test)

Fungsinya: untuk mengetahui alergi pada anak terhadap alergen hirup dan alergen makanan.
Prosedur:

  • tidak ada batasan usia anak, jadi anak usia berapa pun
  • tidak menggunakan obat-obatan
  • sampel serum darah anak akan diambil sebanyak 2 cc lalu diproses dengan mesin komputerisasi khusus
  • hasilnya dapat anda ketahui setelah 4 jam

Tes provokasi dan eliminasi makanan

Fungsinya: mengetahui alergi pada anak terhadap makanan tertentu.
Prosedur:

  • tidak ada batasan usia anak, jadi anak usia berapa pun
  • diagnosa alergi makanan dibuat berdasarkan diagnosis klinis, yaitu anamnesis atau riwayat penyakit anak dan pemeriksaan yang cermat tentang riwayat keluarga, riwayat pemberian makanan dan tanda serta gejala alergi makanan sejak kecil
  • menggunakan metode Provokasi Makanan Secara Buta (Double Blind Placebo Control Food Chalenge atau DBPCFC), yang merupakan standar baku. Namun karena cara DBPCFC ini rumit dan membutuhkan biaya serta waktu tidak sedikit, beberapa pusat layanan alergi anak melakukan modifikasi terhadap metode ini. Salah satunya, dengan melakukan “Eliminasi Provokasi Makanan Terbuka Sederhana”. Caranya: dalam diet sehari-hari, anak diwajibkan menghindari beberapa makanan penyebab alergi selama 2–3 minggu. Setelah itu, bila sudah tidak ada keluhan alergi, maka dilanjutkan dengan provokasi makanan yang dicurigai. Selanjutnya, dilakukan diet provokasi 1 bahan makanan dalam 1 minggu dan bila timbul gejala dicatat. Disebut sebagai penyebab alergi bila dalam 3 kali provokasi menimbulkan gejala. Tak perlu takut anak akan kekurangan gizi, karena selain eliminasi diet ini bersifat sementara, anak dapat diberi makanan pengganti yang ditiadakan tetapi masih memiliki kandungan nutrisi setara.

Tes provokasi obat

Fungsinya: mengetahui alergi pada anak terhadap obat yang diminum.
Prosedur:

  • tidak ada batasan usia anak, jadi anak usia berapa pun
  • metode yang digunakan adalah DBPC (Double Blind Placebo Control) atau uji samar ganda
  • pasien meminum obat dengan dosis dinaikkan secara bertahap, lalu ditunggu reaksinya dengan interval 15–30 menit.
  • dalam satu hari, hanya boleh satu macam obat yang dites. Bila perlu dilanjutkan dengan tes obat lain, jaraknya minimal satu minggu, bergantung dari jenis obatnya.